GARUT,METROJABAR.CO.ID — Kisah pilu dialami tiga anak yatim di Kampung Gombong, Desa Surabaya, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut. Setelah sang ayah meninggal dunia beberapa bulan lalu, ketiganya kini harus menjalani kehidupan bersama kakek dan nenek yang juga memiliki keterbatasan kondisi.
Kondisi keluarga tersebut mendapat perhatian Anggota DPRD Kabupaten Garut, Yudha Puja Turnawan, saat melakukan kunjungan langsung pada Sabtu (5/9/2026).
Ketiga anak tersebut yakni Anissa Siti Nurhalima, Raisa Siti Rohaini dan Sakila. Ayah mereka, almarhum Pasopian Sahori, meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami sakit kronis selama kurang lebih dua tahun.
Sepeninggal sang ayah, ibu ketiga anak tersebut, Aisiti Saadah, harus bekerja sebagai asisten rumah tangga di Kota Tasikmalaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kondisi itu membuat ketiga anak tersebut diasuh oleh kakek dan neneknya, Abah Ahur dan Salamah Rodia.
"Ini tiga anak yatim, ayahnya baru meninggal beberapa bulan lalu. Ibunya harus bekerja menjadi ART di Kota Tasikmalaya, sementara anak-anak diasuh oleh kakek dan neneknya," kata Yudha.
Yudha mengatakan, kondisi keluarga tersebut perlu mendapat perhatian serius karena masuk dalam kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan sosial.
Berdasarkan data yang disampaikan, ibu ketiga anak tersebut masuk dalam desil 1 dan telah mendapatkan komponen bantuan sosial sembako. Namun, bantuan tersebut belum dapat dimanfaatkan karena masih terdapat kendala teknis.
Sementara untuk bantuan sosial lainnya seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI), keluarga tersebut belum mendapatkannya.
"Harapan saya ada asesmen dari Kementerian Sosial melalui Sentra Terpadu Pangudi Luhur, sehingga bisa diketahui bantuan apa yang memang dibutuhkan," ujarnya.
Selain kondisi ekonomi, Yudha juga menyoroti tempat tinggal keluarga tersebut. Rumah yang ditempati Abah Ahur dan Salamah Rodia bersama cucu-cucunya disebut dalam kondisi miring.
Di sisi lain, Abah Ahur juga sudah tidak produktif dan sering mengalami gangguan kesehatan.
Menurut Yudha, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah karena kakek dan nenek tersebut bukan hanya menjadi lansia, tetapi juga harus mengasuh tiga anak yatim.
"Kakeknya sudah tidak produktif dan kondisi kesehatannya juga sakit-sakitan. Karena itu perlu ada asesmen untuk anak-anak yatim maupun kakek neneknya," katanya.
Yudha berharap hasil asesmen nantinya dapat menjadi dasar pemberian bantuan dari pemerintah pusat maupun Pemkab Garut, termasuk melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial atau ATENSI.
Perhatian Yudha tidak berhenti di rumah tiga anak yatim tersebut. Ia kemudian mengunjungi seorang lansia bernama Mak Erum di Kampung Babakan RT 02/RW 01, Desa Surabaya.
Kondisi Mak Erum juga tak kalah memprihatinkan. Lansia tersebut kini tinggal seorang diri setelah suami dan anak tunggalnya meninggal dunia.
Lebih memprihatinkan lagi, Makrum saat ini mengalami kelumpuhan sehingga lebih banyak beraktivitas dalam kondisi duduk dan membutuhkan bantuan.
"Mak Erum ini nenek dari tiga anak yatim yang tadi saya kunjungi. Anak tunggalnya sudah meninggal, suaminya juga sudah meninggal, dan sekarang beliau mengalami kelumpuhan," ungkap Yudha.
Yudha meminta Dinas Sosial Kabupaten Garut segera melakukan asesmen terhadap kondisi Makrum untuk menentukan bantuan yang tepat.
Ia juga membuka peluang agar penanganan dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Baznas hingga program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
"Entah itu dari Baznas, CSR, maupun dari bidang rehabilitasi sosial Dinas Sosial Garut. Yang penting ada asesmen dan bantuan yang sesuai kebutuhan," ujarnya.
Yudha menilai dua kondisi keluarga tersebut menjadi gambaran penting bahwa warga rentan membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Ia berharap pemerintah desa, Pemkab Garut, pemerintah pusat dan lembaga sosial dapat berkolaborasi memberikan perlindungan kepada mereka.
"Semoga kita bisa bahu-membahu agar kelompok rentan ini mendapatkan jaring pengaman sosial, baik dari pemerintah pusat maupun Pemkab Garut," kata Yudha.
Dalam kunjungan tersebut, Yudha turut didampingi Kepala Desa Surabaya Asep Roni, pendamping sosial Yogi serta operator SIK-NG Desa Surabaya.
Ia berharap hasil pendataan dan asesmen dapat segera ditindaklanjuti sehingga bantuan bagi anak yatim dan lansia rentan tersebut tidak berhenti pada pendataan saja, tetapi benar-benar sampai kepada penerima yang membutuhkan.***
Peringatan Hari Santri Nasional dan MTQ ke-48 Perkuat Nilai-Nilai Al-Quran
Lola Nelria Oktavia Realisasikan Aspirasi Petani, Traktor Roda Empat Diserahkan ke Kelompok Tani di Garut
T.I.M.C Resmi Aktif Kembali, Perkuat Silaturahmi dan Kebersamaan Karyawan
Ketua Tim 18 Jabar Sebut KDMP di Garut Siap Beroperasi
Polemik Capacity Building ke Jogja, Dinkes Garut Siap Jika Diperiksa Inspektorat
Dukung jurnalisme independen kami dengan memindai kode QRIS di bawah ini melalui aplikasi e-wallet atau m-banking kesayangan Anda.
Terima kasih banyak atas apresiasi & dukungan Anda!