Logo BeritaKini
Breakingnews
Miftachul Akhyar Kembali Ditetapkan Terpilih sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031
Keterangan foto: Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Miftachul Akhyar saat menyampaikan sambutan pada Pembukaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis, 27 Agustus 2026 (Foto: tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)
NASIONAL

Miftachul Akhyar Kembali Ditetapkan Terpilih sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031

person

REPORTER

Caca Cariwan

Editor

Redaksi

Senin, 31 Agustus 2026 | 00:54 WIB

JOMBANG, METROJABAR– KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) setelah ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031.

Penetapan tersebut menjadi salah satu keputusan penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Miftachul Akhyar ditetapkan melalui mekanisme musyawarah mufakat oleh sembilan ulama yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA).


Keputusan itu diumumkan dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU pada Minggu malam, 30 Agustus 2026. Sebelum keputusan diumumkan kepada peserta muktamar, sembilan anggota AHWA terlebih dahulu menggelar rapat tertutup di kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah.


Musyawarah tersebut berlangsung sekitar satu jam, mulai pukul 21.00 hingga 22.00 WIB. Hasilnya kemudian disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar, yang merupakan salah satu anggota AHWA.

"Setelah melakukan pertemuan tertutup, anggota AHWA secara mufakat mengambil keputusan. Nama KH Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031," ujar Anwar.

AHWA Gunakan Mekanisme Musyawarah Mufakat


Anwar menjelaskan, penetapan Rais Aam PBNU dilakukan dengan mekanisme musyawarah mufakat. Menurut dia, mekanisme tersebut tidak hanya sejalan dengan tradisi keulamaan NU, tetapi juga memiliki landasan dalam prinsip musyawarah Islam dan nilai permusyawaratan yang terkandung dalam Pancasila.


"Tadi kami bersembilan rapat bersama di ndalem Mbah Wahab Chasbullah. Mekanisme musyawarah yang digunakan dalam penetapan Rais Aam kali ini adalah musyawarah mufakat," katanya.


Ia menyebut mekanisme tersebut sejalan dengan prinsip Alquran tentang musyawarah serta sila keempat Pancasila yang menekankan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.

Menurut Anwar, keputusan tersebut sekaligus memperlihatkan upaya NU mempertahankan tradisi keulamaan dan tata kelola organisasi yang mengedepankan keadaban.


"Pemilihan ini melanjutkan sistem pada Muktamar NU di Lampung lalu, kali ini juga berjalan sangat sejuk," ujarnya.

Muktamar ke-35 NU Berlanjut ke Pemilihan Ketua Umum

Dengan ditetapkannya kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU, rangkaian Muktamar ke-35 NU memasuki tahapan penting berikutnya, yakni penentuan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.

AHWA merupakan majelis yang terdiri dari sembilan ulama sepuh yang dipilih dalam forum muktamar. Selain memiliki tugas menentukan Rais Aam, dalam Muktamar ke-35 NU AHWA juga mendapatkan kewenangan dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU.


Sistem AHWA pertama kali diterapkan dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015. Sejak saat itu, pemilihan Rais Aam tidak lagi menggunakan mekanisme pemungutan suara langsung atau one man one vote oleh seluruh peserta.

Pada Muktamar ke-35 NU, peserta juga menyepakati perluasan kewenangan AHWA dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU. Dengan keputusan tersebut, pemilihan Ketua Umum tidak lagi menggunakan mekanisme one man one vote.

Sejumlah Nama Masuk Bursa Ketua Umum PBNU


Sejumlah nama disebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU periode 2026-2031. Salah satunya adalah KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang merupakan Ketua Umum PBNU petahana.

Selain Gus Yahya, terdapat nama KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang.


Nama KH Zulfa Mustofa juga disebut masuk dalam bursa. Ia sebelumnya pernah dipercaya sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU di tengah dinamika internal organisasi yang melibatkan Gus Yahya dan KH Miftachul Akhyar.

Nama lainnya yang turut mencuat antara lain KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, serta KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf.


Menteri Agama Prof. KH Nasaruddin Umar juga dikabarkan masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Namun, pencalonannya masih menjadi perhatian karena adanya ketentuan mengenai larangan rangkap jabatan dengan posisi politik atau pemerintahan.


Penetapan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU menjadi salah satu keputusan strategis Muktamar ke-35 NU. Selanjutnya, perhatian publik dan peserta muktamar akan tertuju pada proses penentuan Ketua Umum PBNU yang akan mendampingi kepemimpinan Syuriyah NU untuk periode 2026-2031***


 .

visibility Dilihat: 104 kali
Gabung Saluran WhatsApp Kami

forum Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini.