Logo BeritaKini
Breakingnews
18 Ton Sampah Plastik Disulap Jadi Bangunan Sekolah di Garut
Sebanyak 18 ton sampah plastik bernilai rendah disulap menjadi material bangunan sekolah di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
DAERAH

18 Ton Sampah Plastik Disulap Jadi Bangunan Sekolah di Garut

person

REPORTER

Agus Kusmayadi

Editor

Tim MetroJabar

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:04 WIB

GARUT,METROJABAR.CO.ID – Sebanyak 18 ton sampah plastik bernilai rendah disulap menjadi material bangunan sekolah di Kabupaten Garut, Jawa Barat.


Inovasi tersebut diterapkan di SDN 3 Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, dengan membangun dua ruang kelas dan dua unit toilet. Fasilitas tersebut diresmikan pada Rabu (30/9/2026).


Bangunan ini memanfaatkan sampah plastik residu yang selama ini sulit terserap dalam sistem daur ulang. Material tersebut diolah menjadi bagian dari konstruksi bangunan melalui program Green Guardians yang digagas Yayasan Bakti Barito bersama sejumlah mitra.


Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian A. Purbasari, mengatakan pembangunan tersebut berawal dari kebutuhan SDN 3 Sukanegla yang mengalami kekurangan ruang kelas karena jumlah siswa terus bertambah.


Menurut Dian, pihaknya kemudian melihat pembangunan ruang kelas sebagai kesempatan untuk memberikan edukasi lingkungan secara langsung kepada para siswa.


“Jadi anak-anak bisa melihat bahwa sekolahnya itu dari sampah. Artinya bahwa sampah itu sesuatu yang bernilai.”


Dian mengatakan, dari gagasan tersebut pihaknya bersama para mitra mengumpulkan sampah plastik bernilai rendah yang selama ini tidak memiliki nilai ekonomi tinggi di tingkat pemulung.


“Dari pemikiran itulah kita bekerja sama dengan para mitra, membangun sekolah dari sampah yang bernilai rendah. Sampah yang selama ini ada di TPA dan atau bocor ke laut.”


Total sekitar 18 ton sampah plastik berhasil dikumpulkan untuk proyek tersebut.


Sampah yang dimanfaatkan antara lain berasal dari bungkus makanan, kemasan sachet, serta jenis plastik lainnya yang sulit didaur ulang secara konvensional.


Material hasil pengolahan kemudian digunakan pada sejumlah bagian bangunan. Selain bata atau blok dinding, material plastik juga dimanfaatkan untuk komponen seperti panel lantai, plafon, atap, pipa, serta bagian rangka jendela dan pintu.


Dian menegaskan, penggunaan material daur ulang tersebut tidak dilakukan tanpa pengujian. Sebelum digunakan dalam pembangunan, material terlebih dahulu melalui serangkaian uji laboratorium.


“Nah sebelum kita membangun tentunya kita melakukan uji-uji laboratorium, kita bekerja sama dengan Universitas Garut dan juga lab dari Dinas PUPR kita melakukan rangkaian pengujian untuk bisa mendapatkan izin membangun sekolah ini.”


Ia berharap inovasi tersebut nantinya dapat diterapkan lebih luas apabila biaya produksinya dapat bersaing dengan material bangunan konvensional.


“Kita harapkan dengan ongkos produksi yang setara dengan konvensional dengan yang sekarang sudah ada, kita berharap bahwa ini bisa digunakan oleh masyarakat secara luas.”


Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana, mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, pembangunan ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sarana pendidikan, tetapi juga memberikan contoh pemanfaatan sampah menjadi material yang memiliki nilai guna.


Nurdin menyebut kerja sama Yayasan Bakti Barito dengan sejumlah pihak sebelumnya juga telah menghasilkan puluhan bangunan.


“Ya tentu Yayasan Bakti Barito tidak hanya di konteks satu ini aja, sudah 40 bangunan yang dibangun oleh Yayasan Bakti Barito yang bekerja sama dengan Star Energy.”


Nurdin juga menyebut konstruksi ruang kelas baru tersebut telah memperhatikan aspek kekuatan. Bangunan menggunakan sistem penguncian menyerupai balok Lego yang diperkuat dengan pipa pada bagian tengah.


“Saya kira ideal kalau lihat ada 4 produk yang sangat baik, kuat seperti Lego. Jadi antara (blok) terkunci, sehingga bangunan ini InsyaAllah kuat.”


Bagi SDN 3 Sukanegla, kehadiran dua ruang kelas baru memberikan perubahan langsung terhadap kegiatan belajar mengajar.


Kepala SDN 3 Sukanegla, Fitri Firdaus, mengatakan sekolah sebelumnya mengalami keterbatasan ruang kelas. Dengan jumlah siswa sekitar 196 orang, kegiatan belajar harus dibagi menjadi kelas pagi dan siang.


Setelah mendapat tambahan dua ruang kelas dan dua toilet, kondisi tersebut dapat ditangani.


“Dan akhirnya ketika kami mengikuti arahan dari Yayasan Bakti Barito terkait menjadi Sekolah Adiwiyata, alhamdulillah kami terbantu dengan dua kelas baru dan juga dua toilet.”


Fitri berharap fasilitas baru tersebut tidak hanya membuat kegiatan belajar lebih nyaman, tetapi juga meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan.


“Mudah-mudahan dengan didapatkannya ruang kelas ini menjadikan anak-anak lebih giat lagi belajar, dan juga dalam hal lingkungannya anak-anak lebih concern.”


Dengan demikian, bangunan baru di SDN 3 Sukanegla tidak hanya berfungsi sebagai ruang belajar. Pemanfaatan 18 ton sampah plastik juga menjadi bagian dari edukasi lingkungan, sekaligus menunjukkan bahwa material yang sebelumnya dianggap tidak bernila

i masih dapat diolah menjadi produk yang berguna.***

visibility Dilihat: 62 kali
Gabung Saluran WhatsApp Kami

forum Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini.